1. Kritik Ekstern menitikberatkan pada originalitas bahan, bertujuan mempelajari relevansi sumber, penyalinan sumber, dan keutuhan sumber.
Cara membuktikan Kritik Ekstern :
- Menggunakan test
- Menerka tanggal pembuatan dokumen
- Anakronisti
- Akurasi pengarang
- Identifikasi terhadap dokumen
- Kritik teks
- Melakukan restorasi teks.
Sedangkan Kritik Intern menitikberatkan pada mempelajari isi sumber, berusaha mempelajari keterangan dalam sumber yang berkaitan dengan kemampuan, penguasaan ilmu dan kepercayaan.
Cara membuktikan Kritik Intern :
- Mempelajari jenis dan tipe aksara
- Menyalin hasil bacaan ke tulisan latin
- Menyalin hasil transliterasi
- Menterjemahkan ke bahasa Indonesia
- Mempelajari tata bahasa
- Perbendaharaan bahasa
- Idiom
2. Langkah yang perlu dilakukan dalam mempelajari dan mengajar teknik-teknik sejarah, meliputi:
* Mendorong rasa ingin tahu mahasiswa, yaitu dengan memberikan pertanyaan untuk merangsang rasa ingin tahu siswa
* Membantu seorang mahasiswa dalam memilih subjek, yaitu mempelajari subjek lebih lanjut dengan mengaitkan pada relevansi sumber
* Alat bantu bibliografi dan nasehat ahli, yaitu mahasiswa harus mengetahui jenis bibliografi yang dibutuhkan
* Majalah Sejarah yang hipotesis, yaitu dengan pembimbing mendemonstrasikan bagaimana kerja seorang editor majalah hipotesis dan mengajak mahasiswa belajar maka akan membantu dalam menerangkan kesulitan-kesulitan penyusunan dan pemakaian index untuk memperoleh data dan informasi yang bisa digunakan dalam sebuah penelitian.
* Beberapa alat bantu bagi komposisi, yaitu Setiap orang yang bermaksud mengarang suatu pekerjaan yang serius, disamping sebuah kamus yang baik, sebaiknya memiliki thesaurus, sebuah kamus-kutipan, sebuah ensiklopedia satu jilid, dan sebuah manual mengenai persoalan tata bahasa dan langgam yang masih dapat diperdebatkan.
* Kata yang tepat dan ungkapan yang akurat, yaitu berusaha menyampaikan kebenaran dengan sebuah ungkapan kata-kata yang mencukupi
* Identifikasi-identifikasi yang layak, yaitu Sebaiknya dalam penulisan tidak memasukkan nama --diri seperti nama orang , nama tempat, pengelompokan resmi atau peristiwa kedalam karangannya, tanpa suatu identifikasi
* Mengedit sebuah dokumen, yaitu menerangkan mengapa dokumen itu dianggap penting, otentik ataupun tidak otentik
* Menghindarkan Langgam yang dibuat-buat, yaitu Seorang pemula cenderung untuk menganggap bahwa alat-alat retoris yang dibuat-buat dapat menambah kebagusan langgamnya. Perumpamaan yang rumit menambahkan pula bahaya klise kiasan yang bercampur.
* Ungkapan-ungkapan yang memperlihatkan proses-proses mental, yaitu kesimpulan yang aman, pernyataan yang terjamin, dugaan yang masuk akal, ia berharap proses-proses mental pada diri pengarang tidak muncul
Komentar saya : Dalam memunculkan rasa ingin tahu siswa, hendaknya dalam memberikan pertanyaan kepada mahasiswa harus memperhatikan ketersediaan dan validitas sumber. Relevansi sumber juga berkaitan dengan subjek yang dipelajari atau diteliti, dalam mempelajari subjek yang akan ditulis hendaknya mencari referensi yang valid dan relevan. Pemilihan majalah sejarah harus hati-hati karena berkaitan dengan subjektifitas penulisan maka pemilihan data atau sumber yang dipakai dalam penulisan sejarah.
3. Satu diantara cara-cara yang paling baik bagi sejarawan untuk memberikan sumbangan kepada usaha mengerti masyarakat, adalah dengan jalan menemukan kontradiksi-kontradiksi dan perkecualian dalam generalisasi-generalisasi ilmu social. Seorang generalisator mudah beranggapan bahwa perkecualian-perkecualian malahan membuktikan kebenaran dalilnya. Tapi kadang-kadang perkecualian merupakan satu-satunya jalan dari suatu jalan dari suatu jalan buntu logika. Karena beberapa pengertian ilmu social didasarkan atas contoh-contoh sejarah yang dipilh sejarawan
Contoh : pergantian kekuasaan orde baru ke reformasi .
Dalam pergantian tersebut banyak terjadi demo untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto, terjadi kericuhan yang dashyat dalam negeri. Reformasi merupakan perombakan keseluruhan Negara bukan hanya dari kepemimpinan Soeharto.
4. Secara umum, Metode Sejarah yang dijelaskan oleh Louis Gottschalk adalah sebagai berikut:
- Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan;
- Menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya) yang tidak otentik;
- Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang otentik;
- Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau peristiwa yang berarti.
Pemberontakan Bersenjata Angkatan Perang Ratu Adil di Jawa Barat Tahun 1950
A. Latar Belakang Masalah
Pada permulaan tahun 1950 terjadi beberapa pemberontakan tentara yang dilakukan oleh eks-KNIL dan Laskar Rakyat. Pemberontakan bersenjata itu umumnya disebabkan program kerja Kabinet Hatta yang akan mengupayakan reorganisasi KNIL, pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), dan pemulangan tentara Belanda ke negerinya dalam waktu selekas mungkin.
Dalam Pembentukan APRIS, pemerintah RIS akan mengintegrasikan eks-KNIL kedalamnya, hal ini menimbulkan ketegangan-ketegangan antara eks-KNIL dengan TNI. Di kalangan TNI sendiri ada keengganan untuk bekerjasama dengan bekas anggota tentara Belanda karena mereka sebelumnya merupakan musuh yang harus diperangi. Sebaliknya di pihak KNIL ada tuntutan agar bekas kesatuannya ditetapkan sebagai alat dari negara bagian. Faktor lain adalah tantangan dari eks serdadu KNIL yang merasa was-was akan nasib mereka jika dilebur dalam tubuh APRIS bersama dengan TNI. Dalam kajian antropologi, ratu adil berada dalam fantasi para anggota yang menunggu akan datangnya sosok pemimpin yang mampu membawa masyarakat manusia kepada kebahagiaan.[1]
B. Batasan Masalah
Dalam penulisan penelitian dengan judul ”Pemberontakan Bersenjata Angkatan Perang Ratu Adil Tahun 1950 di Jawa Barat”, dibatasi pada kejadian-kejadian pemberontakan APRA di wilayah Jawa Barat tahun 1950. Alasan dipilih daerah Jawa Barat karena peristiwa pemberontakan tersebut meliputi sebagian besar wilayah Jawa Barat, khususnya di daerah Bandung. Beberapa daerah Jawa Barat menjadi target pembunuhan dan kerusuhan untuk “unjuk kekuatan”, bahwa ultimatum yang disampaikan Westerling itu benar adanya. Tahun 1950 merupakan masa transisi pemerintahan, dari Belanda ke Republik Indonesia Serikat, dan pada tahun inilah terjadi berbagai gejolak yang menimbulka gerakan-gerakan seperti APRA.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas maka dapat diambil rumusan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi politik, sosial, dan budaya Indonesia, khususnya di Jawa Barat menjelang peristiwa APRA?
2. Mengapa Westerling menganggap dirinya sebagai “ratu adil”?
3. Bagaimana dampak pemberontakan APRA terhadap Republik Indonesia Serikat (RIS)?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian tentang Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) tahun 1950 bertujuan untuk:
1. Mengungkap kondisi politik, sosial, dan budaya Indonesia, khususnya di Jawa Barat menjelang peristiwa APRA.
2. Mendeskripsikan sosok Westerling sebagai Ratu Adil dengan setrategi-strategi yang digunakannya dalam membentuk APRA.
3. Mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan pemberontakan APRA terhadap Republik Indonesia Serikat (RIS).
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi dasar acuan penelitian tentang ‘perjuangan bangsa Indonesia dalam membentuk negara kesatuan’ dimasa yang akan datang. Selain itu, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi tentang Sejarah Indonesia pasca dibentuknya Negara Republik Indonesia Serikat sehingga bermanfaat bagi pembaca/pemakai referensi ini selanjutnya. Menambah wacana keilmuan di bidang pendidikan bagi pembaca serta digunakan dan dikembangkan dalam proses belajar mengajar terutama dalam materi yang bersangkutan.
F. Kajian Pustaka
Peristiwa APRA di Jawa Barat tahun 1950 merupakan suatu percobaan kudeta yang terorganisir. Peristiwa ini melibatkan dua negara yang baru saja selesai berperang yaitu Indonesia dan Belanda yang kemudian menyerahkan kedaulatan di tangan RIS. Pemberontakan terkadang juga bertujuan untuk memertahankan tatanan yang ada, seperti pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) 1950, atau yang dikenal dengan istilah “kudeta Westerling”. Berdasarkan kajian antropologi, gerakan Ratu Adil pada umumnya mempunyai empat aspek penting, yaitu: Aspek keagamaan, Aspek psikologis, Aspek raja-adil, Aspek keaslian kebudayaan
G. Metode Penelitian
Tahap pertama yaitu heuristik. Sumber berupa arsip yang telah dilakukan pencarian
Tahap kedua yaitu kritik sumber. Terdiri kritiks ekstern dan intern
Tahap ketiga yaitu interpretasi dari teks/dokumentasi
Tahap keempat adalah historiografi.
H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini terdiri dari 5 Bab. Untuk mempermudah memahami penulisan ini, maka akan dijelaskan sebagai berikut:
BAB I (Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan metode penelitian serta sistematika penulisan).
BAB II (Konsep Ratu Adil dalam APRA).
BAB III (Strategi Westerling dalam Gerakan APRA).
BAB IV APRA (Gerakan Bersenjata dan Dampaknya bagi RIS)
BAB V PENUTUP yang berisi kesimpulan.
[1] Koentjaraningrat, Tokoh-Tokoh Antropologi: Ikhtisar dari Karya-Karya dan Konsep-Konsep Sarjana-Sarjana Utama dalam Antropologi, Jakarta: P.T. Penerbitan Universitas, 1964, hlm. 98.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar